PEMUDA DALAM KEMERDEKAAN

Sang Saka Merah PutihDirgahayu Indonesia yang ke 69. Tidak terasa kita sudah menikmati kemerdekaan dengan berbagai kegiatan dan apapun yang pernah lukiskan untuk sejarah hidup ini. Mungkin banyak pula manusia baru yang lahir pada hari membahagiakan ini atau yang meninggal sekalipun. Kedatangan dan kepergian mereka akan mudah diingat oleh orang disekitarnya. Namun bukan itu yang akan menjadi topik kai ini. Biarlah yang lahir tumbuh menjadi pewaris yang baik untuk kita nantinya dan yang pergi biarlah tenang disisi Tuhan. Tinggal kita di sini, para otot-otot dan otak segar. Pemuda. Calon pemimpin dan nahkoda untuk Indonesia dimasa depan. Kita ada di setiap penjuru negeri ini, kita mengetahui bagaimana cara menghormati bangsa ini, kita yang nantinya akan bergerak maju tanpa menyerah. Semua orang berharap seperti itu. Pemuda dipersiapkan untuk masa yang akan datang, dan bangsa ini menggantungkan setiap harapan baik mereka bersama langkah kaki kita.
Calon pemimpin, walaupun belum menjadi pemimpin kita tanpa sadar telah mengajarkan kepemimpinan kepada generasi dibawah kita, kecuali kawan kita yang mungkin masih sibuk mengurusi dunianya sendiri. Banyak kawan kita telah melakukan hal yang berguna bagi bangsa ini, meskipun mereka tidak berpendidikan tinggi, namun selalu ada ide untuk memajukan bangsa mulai dari hal-hal kecil seperti lomba-lomba untuk memperingati HUT RI setiap tahunnya. Lomba diadakan di desa masing-masing dengan modal swadaya maupun swadana masyarakat setempat. Sekelompok kawan kita di masing-masing desanya bersatu mengolah dan merencanakan pesta kemerdekaan. Tanpa sadar mereka menyumbangkan tenaga untuk meningkatkan rasa nasionalisme bangsa dimulai dari masyarakat di sekitar mereka. Mereka mengadakan lomba yang secara antusias diikuti oleh anak-anak hingga bapak-bapak dan ibu-ibu rumah tangga. Walaupun terlihat sederhana tetapi ada makna yang begitu pasti yaitu kerukunan, persatuan, dan cinta. Cinta untuk sesama, negara, bangsa, agama. Bahagianya ibu pertiwi jika semua kawan kita dapat mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang berguna. Tidak hanya saat perayaan tiba, tetapi selamanya, selama kemerdekaan masih dikandung badan.

AB, Infokomjar BEM FBS UNY 2014

Aku melanjutkan hidupku disini, Fakultas Bahasa dan Seni UNY

Bahasa maupun seni, tetaplah kita kampus ungu. Aku heran saat pertama kali menginjakkan kaki di FBS. Waktu itu aku melewati gerbang FMIPA dan tanpa ragu aku lanjutkan langkahku hingga sampai ke FBS. Tidak ada seorangpun yang menyambutku ketika aku sampai di gedung C.13, aku tidak tahu kalau saat itu mahasiswa sedang libur semester genap. Karena penasaran, aku melangkahkan kaki lagi dan kutemukan bangunan jawa yang megah. Kukira ada sanggar wayang atau tari disana, ternyata itu tempat kuliah juga, sebuah pendopo. Dari sana mulai kujumpai beberapa mahasiswa yang sepertinya sedang sibuk mengurus sesuatu. Kemudian kulanjutkan langkahku sampai kulihat gedung tinggi yang bertuliskan Pusat Kegiatan Mahasiswa. Ramai tak terkira, dan aku mulai bergabung menyodorkan formulir OSPEK kepada kakak-kakak yang mungkin sudah siap menyambut aku dan kawan-kawan baruku sejak pagi. Aku mendaftar dan mengisi semua formulir yang telah tercantum di FB. Rasanya lega karena seminggu lagi aku akan mengikuti OSPEK dan tidak lagi mengisi form-form itu. Aku bahagia sekali karena aku sebentar lagi akan bertemu dengan kawan-kawan yang telah mendapat kesempatan sama denganku. Aku juga akan bertemu orang-orang hebat yang akan memberiku banyak ilmu. Betapa bangganya ibu dan ayah di rumah. Mungkin mereka mengkhawatirkan keadaan kita disini, bahkan yang bukan pendatang sekalipun. Namun, aku sebagai pendatang tidak akan terlihat seperti orang susah, walaupun aku baru disini, aku tidak akan banyak merepotkan orang lain. Selagi aku punya tempat tinggal, bekal materi maupun keberanian aku akan mencari kawan dan kita akan berjuang bersama. Awalnya aku mencoba tinggal di kost baruku seminggu sebelum OSPEK tujuanku agar aku cepat beradabtasi dengan lingkungan baruku. Apa daya, hampir setiap malam aku tak dapat tidur dan rasanya ingin pulang ke rumah. Bahkan aku tak mampu menahan tangis karena aku merasa sendiri dan jauh dari orang tua. Hal ini sangat umum dirasakan para maba yang belum terbiasa jauh dari orang tuanya. Namun, jangan khawatir kawan, bertahan saja karena kegiatan-kegiatan lain yang harus kita urus akan membuat kita melupakan kerinduan kita terhadap orang tua dan suasana rumah. Bahkan kita lama-kelamaan malah akan betah tinggal dan menghabiskan waktu serta tenaga disini, FBS UNY. Dan kawan-kawan akan memiliki banyak kawan yang berbeda dari jaman kita SMA dulu, asalkan kita mau berbaur serta membuka diri untuk lingkungan baru kita.
Selamat berjuang…! aku percaya kamu, kalian, kita, dapat hidup dan berjuang untuk meraih apa yang kita impikan. Walaupun itu butuh kerja keras.
Semangat maba FBS,

Salam Budaya

AB, Maba FBS 2012 (Infokomjar BEM FBS 2014)

OSPEK hampir tiba…

Kawan-kawan maba yang sebentar lagi akan bergabung di kampus ungu, selamat atas keberhasilan kalian. Kalian telah mendapat kesempatan lebih baik dan satu langkah lebih maju dari kawan-kawan yang mungkin kurang beruntung. Dua tiga bulan yang lalu mungkin kawan-kawan sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi SBMPTN atau bahkan telah mendaftar SNMPTN. Dan bulan lalu kawan-kawan yang telah lolos SNMPTN juga telah mendaftar OSPEK universitas maupun fakultas. Betapa bangga para orang tua kita karena kita termasuk orang-orang yang berkesempatan mengembangkan potensi kita dalam lingkungan pendidikan yang berkualitas. Yang lebih penting lagi, kawan-kawan tidak perlu khawatir dengan info OSPEK FBS 2014 karena kakak-kakak panitia akan selalu memposting semua info yang berkaitan dengan OSPEK FBS. Nah, dimana? Di media sosial tentunya. Jadi kawan-kawan maba sering-sering aja aktif di socmed, di FB, twitter atau web. Terutama kepo-kepo masalah tanggal kapan batas waktu pendaftaran OSPEK dan pengumpulan formulirnya, atau kapan tes kesehatan untuk mahasiswa baru FBS dan sebagainya. Nah, ngomong-masalah OSPEK, kawan-kawan maba FBS dapat kepo disini:
- Info OSPEK FBS UNY 2014 (FB)
- @OSPEKFBSUNY2014 (Twitter)
- ospekfbsuny.wordpress.com (web)

Disana juga ada info dari panitia OSPEK FBS 2014, antara lain:
• Pengumpulan formulir OSPEK jurusan tanggal 9-12 Agustus 2014 di PKM FBS jam 09.00-15.00 WIB.
•Untuk maba SBMPTN 2014 :
- 13 Agustus 2014 melakukan tes kesehatan
- 13-15 Agustus 2014 melakukan pembayaran UKT dab registrasi ulang
- 18-20 Agustus 2014 pengisian KRS (Kartu Rencana Study)

Selain sumber informasi di atas, kawan-kawan juga dapat kepo di socmed BEM FBS 2014 :
- BEM FBS UNY (FB)
- @bemfbsuny (twitter)

Salam Budaya!

Infokomjar BEM FBS UNY 2014

Surat Tuan Pelambung dan Tali Sepatu Putih (Part 1)

Aku menggembungkan pipiku, meniupkan udara sekuat yang kubisa. Satu, dua, tiga, hampir berhasil. Dari semua cara yang kucoba bukannya meniup justru aku menghirup kembali udara yang kucoba hembuskan. Sesak rasanya, namun aku terus mencoba. Walaupun suara aneh yang keluar dari mulutku bukannya udara, aku terus mencoba hingga bulatan berwarna merah itu terlihat di pupilku. Semakin besar semakin jelas namun aku kelelahan dan sejenak beristirahat, udara-udara nakal itu berusaha melarikan diri. Bulatan merah itupun mengecil sedikit. Aku tak mau kalah, aku hembuskan kuat-kuat sampai aku rasa cukup untuk menghembuskannya.

Tidak buruk, pikirku. Bulatan merah itu lumayan besar untuk ukurannya. Aku tarik ujungnya sehingga menjadi cukup panjang untuk disimpul sehingga udara di dalamnya tak bisa lari. Cukup sulit menyimpulkannya, aku harus mencoba beberapa kali dan menariknya erat. Ruas-ruas jariku menjadi merah mirip dengan warna apa yang baru saja kutiup.

Aku memegang erat bulatan berwarna merah itu. Besarnya melebihi kepalaku sendiri. Dalam hati aku merasa bangga bisa meniupnya menjadi sangat besar, bagiku. Bagiku yang jarang meniup bulatan itu, bahkan ketika aku masih kecil.

Lama aku memandangi benda itu, tembus pandang. Aku bisa melihat sisi kanan tembok kamarku. Aku menyebutnya Tuan Pelambung karena benda itu sangat suka melambung tinggi ketika aku melemparnya ke udara. Kemudian aku mencoba melambungkan bulatan merah itu lagi. Suaranya mendesing, terdengar cukup keras di gendang telingaku. Aku lambungkan lagi, dung dung dung. Satu, dua, tiga, aku sangat suka melihatnya terbang melambung tinggi di udara. Walaupun hanya sebentar, tidak lama gaya gravitasi ini membiarkan Tuan Pelambung milikku terbang di udara. Namun aku cukup bahagia melihatnya melambung. Aku bisa menangkisnya lebih keras sehingga dia melambung lebih tinggi, namun aku takut menangkisnya terlalu keras dan membuatnya meledak. Aku akan merasa sangat sedih, dan menyesal. Aku selalu suka suara ketika tanganku mengenai bulatan itu tapi aku selalu tidak suka suara keras ledakan, sejak dulu.

Seketika aku teringat kalau akan lebih cantik jika bulatan itu memiliki sesuatu yang menjuntai dan terikat di simpulnya. Apa yang bisa kugunakan?

Aku membuka pintu lemari baju di pojok kamarku. Kubuka pintu sebelah kiri, meraih tali sepatu yang tergantung di dalamnya. Baunya sedikit apek dan lembab. Baunya menyeruak dan menusuk-nusuk hidung. Segera kututup pintunya saat kuraih tali berwarna putih yang kucari. Sepertinya aku harus membeli anti lembab dan menaruhnya dalam lemari.

Tali sepatu putih itu, ya aku mengingatnya. Dengan sangat jelas di pikiranku. Tali sepatu itu berwarna putih bersih dan terlihat baru. Dulu aku rajin menyikatnya, dulu aku rajin mencucinya. Aku selalu bersemangat ketika hari Minggu pagi, saat waktunya aku mencuci sepatu kesayanganku dan tali sepatu putih itu. Bermain buih, suara air yang berkecipuk. Aku selalu suka suara-suara itu terutama suara air.

***

Almira Romala (Infokomjar BEM FBS 2014/Sasing 2011)

Laboratorium Kebudayaan FBS

Tampuk proses kreatif berkesenian mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta (FBS UNY), tak terlepas dari peran Organisasi Mahasiswa (Ormawa) serta pelbagai komunitas di dalamnya. Pelbagai macam kesenian yakni, musik, rupa, sastra, dan kolaborasi ketiganya pun ada. Kiblat paham kesenian yang diyakini dan dijalankan oleh para pegiat terimplikasi dari pengaruh kebudayaan “barat”, “timur”, “kontemporer”, “lokal”, dan lainnya. Eksistensi kesenian yang dipunggawai oleh mahasiswa FBS itu telah meneroka ke jagat nasional mau pun internasional. Meski piagam atau legitimasi predikat “sang juara” disematkan pada mahasiswa (pegiat), kepongahan tak menerpa mereka; justru semangat belajar dan ikhtiar pengembangan kesenian mahasiswa itu semakin besar.

Seorang budayawan ulung dan senior bernama Suminto A. Sayuti—beliau merupakan alumnus FPBS IKIP Yogyakarta 1979 dan mendapatkan predikat Guru Besar FBS, UNY, serta pegiat kesenian gamelan—pernah berkata: “Kampus tanpa kesenian ialah kebun binatang.” Napas semangat yang diujarkan oleh beliau, Sang Guru Besar, menjadi ruh pemicu semangat berkesenian mahasiswa FBS. Anggapan publik bahwa FBS ialah kampus yang memiliki sisi unik dari kampus lain—dalam hal berekspresi/berkesenian—dapat dinyatakan demikian. Sebab, tiap hari Pukul 07:00-24:00 (atau lebih) kampus FBS tak pernah sepi dari mahasiswa yang sedang latihan—dikenang mahasiswa sebagai proses kreatif secara kolektif. Kerelaan mahasiswa untuk berlatih pada malam hari sering kali diiktikadkan sebagai “ritual” khusus guna mendalami kesenian itu secara khusyuk: berupa seni musik dengan alat musiknya; seni visual 2 atau 3 dimensi sebagai acuannya; mengurai kreativitas lewat aksara hingga tercipta puisi/cerpen; dan kolaborasi antara musik, sastra, dan seni rupa sehingga tercipa seni pertunjukan (teater).

Proses berlangsungnya “ber-seni” itu mustahil tanpa ada kerja bersama. Oleh karena itu, tiap tahunnya pada momen Orientasi Mahasiswa Baru, para pegiat seni mahasiswa FBS selalu mengajak dan terbuka secara seluas-luasnya untuk menerima/merekrut anggota barunya. Sirkulasi ini dapat melalui Ormawa FBS sebagai lembaga formal Fakultas atau dapat memasuki jalur kultural di komunitas. Hal itu tak terlepas dari bakat dan minat mahasiswa. Semua mahasiswa—tanpa terkecuali: baik semester awal atau akhir—dapat turut serta bergabung di dalamnya. Inilah bukti bahwa FBS merupakan fakultas yang humanis; menjunjung tinggi nilai kemanusiaannya.

Agenda kesenian pada tahun 2014 ini sungguh banyak dan menakjubkan. Iringan musik orkestra yang digarap oleh mahasiswa seni musik, pameran akbar seni lukis oleh mahasiswa seni rupa, pentas kolaborasi dalam rangka Dies Natalis UNY ke-50 tahun (baca: setengah abad), dan pelbagai seni lainnya telah menjadi bukti otentik: karya nyata mahasiswa FBS. Luar biasanya lagi, di dalam proses berkesenian itu tak lantas berdiri secara personal/kelompok entitas semata. Namun, turun tangan guna membantu dalam proses kegiatan dari senior lintas angkatan pun merupakan kultur temurun sejak lampau. Hal itu merupakan keniscayaan; dan kontribusi alumni sungguh luar biasa. Akhirnya, laboratorium kesenian FBS pun akan tetap berdiri kokoh dan semoga melahirkan seniman yang diperhitungkan di dalam konstelasi kebudayaan Indonesia kelak. Salam budaya!

 

 

Rony K. Pratama

Ketua BEM FBS 2014 (PBSI 2011)

Bangkai dalam Bingkai

Aku tidak terlalu tahu

Akupun tidak begitu yakin

Namun

Setidaknya aku peduli

Kucoba membaca dan menyimak lebih pasti

Tetapi, bangkai itu belum kulihat

Baunya pun hanya tercium para ahli

Entah seperti apa bingkainya

Hingga orang-orang tak mengerti

Betapa bangkai itu telah menghapus banyak nyawa

Nyawa yang ingin berbaik hati

Membogkar bingkai yang lama tekunci

Kau tahu untuk siapa?

Kau tahu bangkai itu bak racun untuk siapa?

Indonesia

Bangsa Indonesia

Bangsa kaya raya

Bangsa yang katanya siap berperang

Ternyata terlena

Tertipu para pembingkai

Dan kau tahu bingkai itu dimana?

Saatnya bangsa ini intropeksi

Bukan diri kita

Tetapi negara kita

Buka narasi, deskripsi, eksposisi negara

Telusuri setiap abjad lengkap dengan gambarnya

Maka akan terlihat jelas

Bangkai itu terbingkai indah

Munasiroh (Infokomjar BEM FBS 2014/PB Prancis 2012)