Untitled

adakah yang lebih mengusik
selain keganjilan lirik dan gerik?
diantara rona merah yang merekah
pun pucat yang menyemburat itu
: tereja sebuah nama
menjadikan nafas terbata menghela kata

adakah yang lebih bising
selain kerinduan yang mendesing?
bahkan tatkala siasat setan tercuri oleh telinga kita
desing itu tak juga jadi sepi

bukankah kita sendirilah yang paling berkuasa mencipta jarak?
waktu hanya berhak mengukurnya
dan lalu Tuhan
akan dengan sesuka-Nya mencarutkan rindu kita

Bulaksumur, 1 April 2014

Aulia Husna S. (Sekretaris II BEM FBS 2014/Sasindo 2011)

Kunjungan LEM FPSB UII ke BEM FBS UNY

Pada tanggal 22 Maret 2014 BEM FBS UNY mendapat kunjungan kelembagaan dari LEM FPSB UII. Kunjungan tersebut dilaksanakan salah satunya karena UII sendiri baru membuka prodi Pendidikan Bahasa Inggris pada tahun 2011 sehingga melakukan kunjungan kelembagaan ke BEM FBS UNY untuk mengetahui lebih lanjut mengenai jalannya BEM di FBS yang memiliki probi Pendidikan Bahasa Inggris tertua. Dalam kunjungan tersebut kedua lembaga mahasiswa ini saling bertukar informasi mengenai visi, misi dan program kerja. LEM FPSB UII yang mempunyai visi untuk menjadikan mahasiswanya sebagai mahasiswa Ulil Albab ini mempunyai struktur yang berbeda dengan BEM FBS UNY. Jika BEM FBS UNY memiliki posisi dibawah rektorat dan dekanat, maka LEM FPSB UII berposisi sebaliknya. LEM FPSB yang saat ini di ketuai oleh Taktika Rahmi ini menggunakan sistem pemerintahan Student Government dan memiliki kedudukan yang sejajar dengan rektorat dan dekanat.

Selama kunjungan kemarin ketua LEM FPSB UII yang saat ini juga tercatat sebagai mahasiswi psikologi tahun 2010 ini menyatakan kekagumannya terhadap BEM FBS UNY dalam mengelola setiap jurusan. Menurut sosok yang akrab disapa Tika ini, BEM FBS sangat baik dalam menjaga setiap jurusannya, walaupun tiap jurusan terbagi menjadi beberapa prodi dan tiap jurusan memiliki Hima sendiri. Ia juga berharap LEM FPSB UII ini dapat lebih digunakan sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa dalam berorganisasi kedepannya.

M. Reza Hendrajaya (Staff Infokomjar BEM FBS 2014/Sastra Inggris 2013)

Notulen BBM (Bincang Bimbang Mahasiswa) “Audiensi Kebijakan PPG dan Penghapusan Akta Mengajar bersama BEM FBS UNY 2014”

Notulen BBM (Bincang Bimbang Mahasiswa) “Audiensi Kebijakan PPG dan Penghapusan Akta Mengajar bersama BEM FBS UNY 2014”

Jumat, 21 Maret 2014 di Ruang Seminar PLA lt.3 FBS UNY

 

Apa itu PPG? Serta bagaimana pemaknaan kata professional dalam visi FBS terkait dengan diberlakukannya PPG?

 

1.   Prof. Dr. Zamzani, M.Pd. (Dekan FBS)

PPG muncul saat SBY diangkat menjadi presiden, sejak itu muncullah istilah Pendidikan Profesi serta melahirkan UGD (Undang-Undang Guru dan Dosen). Sertifikat kependidikan diperoleh setelah lulus S-1/D-IV. Permasalahannya adalah saat itu IKIP/LPTK belum memproduksi calon guru dibidang khusus, contoh: guru penerbangan, pertanian, perkebunan, dll.

Istilah PPG muncul pada tahun 2005 tetapi belum berlaku efektif, sehingga diberi masa tenggang selama 10 tahun. Jadi, seharusnya PPG mulai efektif diberlakukan mulai tahun 2016 nanti karena masa tenggangya sudah habis.

Selain itu, pada tahun 2005 terbit pula Keputusan Menteri yang mengatakan bahwa akta kependidikan dapat diperoleh melalui portofolio dan PLPG, atau dengan kata lain LPTK harus meluluskan sarjana akademik tetapi bukan vokasional, seperti yang terjadi pada FT. Akan tetapi, meskipun nanti PPG diberlakukan, FBS akan tetap berkomitmen melahirkan tenaga kependidikan.

 

2.   Prof. Dr. Suwarna, M.Pd. (Sekretaris LPPMP)

LPPMP bukan penyelenggara PPG. Penyelenggara PPG adalah LPTK yang berstatus terakreditasi. Sampai saat ini, PPG merupakan proyek dari pemerintah, bukan atas kemauan dari LPTK sendiri. Program PPG sendiri berbasis program studi, jadi kuliahnya nanti di jurusan masing-masing, tapi berhubung LPPMP menyediakan ruang kelas maka kuliah bisa dilakukan di situ kecuali di FMIPA.

PPG sendiri mengacu pada UUD no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pada pasal 42 dan pasal 43. Peraturan Pemerintah no. 74 tahun 2008 tentang Guru dan Dosen yaitu pada pasal 1 dan pasal 47 A. Serta Permendiknas no. 7 tahun2013 tentang Program Pendidikan Guru Pra-jabatan yaitu pada pasal 1.

Pokok permasalahan berikutnya ialah tidak semua LPTK memiliki program penyelenggaraan guru untuk SMK. Kepala Dinas Dikpora DIY sendiri menyatakan bahwa “Pelaksanaan PPG harus langsung diarahkan bagi alumni LPTK.” Dengan kata lain, yang bisa ikut PPG difokuskan pada lulusan LPTK kependidikan. Meskipun, tidak ada jaminan bisa langsung lulus. Bagi alumni non-kependidikan yang mau ikut PPG, tetapi bidang ilmunya ada di LPTK (sudah terdaftar di LPTK), alumni non-kependidikan tersebut tidak bisa mengikuti/mengambil PPG. Namun berdasarkan KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia), lulusan non-kependidikan yang ingin ikut PPG dan bidang ilmunya ada di LPTK, maka harus menempuh matrikulasi.

Hal utama diberlakukannya KKNI ialah KKNI tidak melarang orang kuliah berdasarkan usia, tetapi pengalaman (sudah bekerja) pun juga diprioritaskan. Jadi, undang-undang yang menyatakan usia maksimal untuk mengikuti PPG harus 26 tahun, sekarang ini sudah tidak berlaku lagi. Sebenarnya, PPG dilakukan untuk penyetaraan level (versi KKNI) pendidikan di seluruh dunia. Sebab, saat ini S-1 berada pada level 6, pendidikan profesi pada level 7, S-2pada level 8, dan S-3pada level 9.

 

3.   Dr. Widyastuti Purbani, M.A. (Wakil Dekan I FBS)

PPG hadir karena lulusan guru di Indonesia belum cukup professional. Hal ini dibuktikan dengan Indonesia menjadi peringkat 121 di HDI dan berada di peringkat 64 dari 65 negara pada survei PISA. Selain itu, UU tentang SisDikNas (Sietem Pendidikan Nasional) No. 20 Tahun 2003 Pasal 39 Ayat 2 juga menyatakan bahwa pendidik harus merupakan seorang tenaga professional.

Di Eropa, mahasiswa yang telah lulus S-1 kependidikan harus menempuh 3 semester lagi untuk menjadi guru dan praktik 12 minggu mengajar. Bahkan di negara Inggris, guru yang sudah lulus profesi,setiap 5 tahun akan dicek kembali apakah masih berkualitas atau tidak. Mengenai kurikulum yang terdapatdalam PPG, nantinya tidak ada teori, hanya ada praktik dan workshop. Sedangkan mengenai biaya, memang belum pasti. Tapi ada gambaran bahwa di jurusan akuntansi, untuk registrasi PPG harus membayar Rp. 350.000,- dan Rp. 20.000.000,- per semesteruntuk 24 SKS.

 

 

Pertanyaan

(1)  –Jannah- Pendidikan Bahasa Inggris angkatan 2010

Berapa biaya PPG untuk jurusan bahasa dan bagaimana mekanismenya? Apakah benar isu yang beredar mengenai mahasiswa yang baru lulus S-1 mulai tahun ini dan ingin ikut PPG  harus mengantri para PNS yang belum sertifikasi?

 

(2)  -Adet- Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2010

Apakah benar bahwa PPG akan terpusat pada satu universitas, misalnya PPG seni tari akan dilakukan serentak di UNJ? Dan isu bahwa untuk ikut PPG harus mengabdi sekian tahun dan biaya kuliahnya sebesar 6juta per-semester, apakah benar? Bukankah data PISA tidak hanya dipengaruhi oleh keprofesionalan guru, tetapi juga oleh sistem pendidikannya? Apa bedanya kurikulum di PPG dengan kurikulum di S-1 kependidikan?

 

(3)  –Ahmad- Fakultas Ilmu Sosial

Matrikulasi itu bagaimana? Tadi disebutkan bahwa lulusan LPTK diprioritaskan ikut PPG tapi tidak ada landasan yuridis dalam permendiknas. Di kurikulum S-1 kependidikan sudah ada mikro teaching dan KKN-PPL, kenapa di kurikulum PPG juga ada lagi? Mengapa rektor LPTK tidak protes dengan diberlakukannya PPG yang dirasa merugikan bagi mahasiswa S-1 kependidikan?

 

(4)  –Puji Antoro- Pendidikan Seni Tariangkatan 2013

Berapa lama waktu matrikulasi? Sejujurnya pendidikan seni di UNY hanya unggul karena lulusan dapat langsung mendapat akta IV untuk mengajar. Namun, dengan adanya PPG ini tentu merugikan sekali bagi mahasiswa seni karena setelah lulus tidak bisa langsung mengajar, sedangkan untuk jadi seniman pun kemampuannya dirasa kalah jauh dengan para lulusan institut seni lainnya di Yogyakarta.

 

(5)  –Dita- Pendidikan Bahasa Jerman

Bagaimana baiknya, setelah lulus S-1 ikut PPG atau S-2 dulu? Setelah ikut PPG apakah ada jaminan bisa langsung bekerja? Apakah untuk ikut PPG harus melalui SM3T?

 

 

 

Jawaban

1.   Prof. Dr. Zamzani, M.Pd. (Dekan FBS)

Untuk ikut PPG tidak harus mengantri para PNS. Mulai 2016 PPG merupakan program sertifikasi pra-jabatan. Jadi, bukan sertifikasi untuk para guru yang sudah menjabat. UNJ memang mendapat tugas untuk menyelenggarakan PPG di bidang kesenian. Akan tetapi, UNY juga sudah mengantongi surat izin penyelenggaraan PPG, meskipun tahun ini diFBS baru untuk PBSI dan PBI. Sedangkan FT menyelenggarakan PPG bekerjasama dengan non-kependidikan. Untuk mahasiswa S-1 kependidikan tidak ada matrikulasi. Untuk non-kependidikan ada matrikulasi atau penambahan semester, dipusatkan pada pembuatan media praktik dan praktIk mengajar.

Untuk menjawab pertanyaan nomor 5 lihatlah kembali level kependidikan dunia: S-1=level 6, Profesi= level 7, S-2= level 8, dan S-3=level 9. Pada 4 tahun lalu lulusan S-1/profesi bisa menjadi dosen tapi harus membuat surat pernyataan tidak akan memproses sebelum S-2. Sedangkan untuk mata kuliah micro teaching di kurikulum PPG, itu dikarenakan konsep micro di UNY berbeda dengan di tempat lain. Sejatinya micro teaching tidak diperuntukkan untuk mengajar teman sendiri. Tetapi, mengajar kepada peserta didik langsung (di Sekolah).

 

2.   Prof. Dr. Suwarna, M.Pd. (Sekretaris LPPMP)

Biaya PPG untuk satu orang kira-kira mencapai 16 juta untuk 1 tahun, dan itu akan dibiayai pemerintah jika melalui SM3T. Berdasarkan KKNI, sampai saat ini yang ikut PPG hanya lulusan dari kependidikan saja, sedangkan lama studi tidak diatur dalam permendiknas. PPG diadakan karena pemerintah ingin menaikkan derajat guru menjadi lebih terhormat, karena dari tahun ke tahun peminat untuk menjadi guru terus naik. Tahun 2013 kemarin peminatnya mencapai 60%.

Dalam KKNI usia tidak berpengaruh, karena pengalaman juga diprioritaskan, misalnya ketika seharusnya seseorang menempuh 140 sks untuk PPG, dia bisa hanya menempuh100 sks jika memiliki bukti pengalaman bekerja. Ditegaskan sekali lagi bahwa setelah lulus PPG belum tentu bisa langsung kerja. Yang jelas, sampai masa tenggang keefektifan PPG belum habis hingga 2015 nanti, UNY TETAP mengeluarkan akta IV.

 

3.   Dr. Widyastuti Purbani, M.A. (Wakil Dekan I FBS)

Terkait PPG yang dapat menjadikan calon sarjana sebagai “calon pengangguran” itu tidak benar –karena biaya PPG begitu mahal. Kami mengadakan mata kuliah Kewirausahaan semata-mata sebagai salah satu usaha kami untuk mencegah pengangguran, terutama dari lulusan UNY. Kami juga sedang berusaha bahwa dimasa depan program KKN-PPL untuk S-1 sifatnya hanya pengamatan dan eksplorasi saja, tidak seberat sekarang. Serta jangan terbujuk pada program universitas-universitas lain yang katanya menyediakan akta IV yang sebetulnya tidak jelas. Dan juga jangan selalu beranggapan bahwa pendidik itu hanya guru.

Pemberlakuan PPG belum jelas kapan waktunya, jadi kita ikuti saja prosesnya. Program ini memiliki niat yang baik yaitu mengangkat derajat guru dan memperbaiki  pendidikan haruslah mendapatkan respons positif juga dari para mahasiswa (terlebih calon guru). Selain itu, UNY masih akan tetap mengeluarkan Akta IV sampai PPG itu benar-benar berjalan efektif. Dan sebagai calon lulusan kependidikan, janganlah mempersemit makna pendidik. Yang artinya pendidik itu bukan hanya terbatas sebagai guru profesi yang kemudian menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pendidik memiliki makna yang luas maka harus dengan sebaik-baiknya menggunakan peluang yang sudah ada dan jangan putus asa untuk terus berusaha menjadi yang terbaik.

 

PPG masih dalam masa transisi, belum jelas sekali kapan akan diberlakukan. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa kependidikan tetap tenang dan mengamati prosesnya secara bijaksana. Guncangan persoalan ini jangan sampai mempengaruhi proses belajar kita ya, Kawan. Tetap jaga kesehatan :)

 

Salam Budaya!

Yogyakarta, 21 Maret 2014

Sandiwara Alam Semesta

Kau tahu bahwa dunia ini panggung sandiwara?

Penuh akan drama di dalamnya?

Kau harus tentukan lakon apa yang akan kau perankan.

Ketika kau sudah tahu peran apa yang kau mainkan, jalankan peran itu sebaik mungkin agar orang lain tidak menyadari bahwa kau tengah memainkan  sebuah peran.

Apa? Kau bertanya apakah ada orang yang tidak tengah memainkan sebuah peran?

Jawabanku? Tidak.

Aku yakin setiap orang di muka bumi ini tengah memainkan lakonnya masing masing.

Jika pun tidak pasti orang-orang itu tengah mengenakan topeng.

Oh ya aku lupa memberi tahumu kalau dunia ini juga penuh dengan manusia manusia bertopeng.

Topeng yang melindungi mereka dari kerasnya hukum alam di muka bumi ini.

Topeng yang dijadikan sebagai kamuflase untuk menutupi siapa mereka sesungguhnya.

Topeng yang mereka jadikan sebagai tameng.

Aku juga lupa memberi tahumu bahwa dunia ini kejam?

Jangan kau kira hanya Ibukota saja yang kejam layaknya Ibu Tiri.

Itu hanya bagian terkecil dari kejamnya dunia yang sesungguhnya.

Kau tahu? Bahwa semesta-pun juga memainkan peran dalam kehidupan.

Antagonis dan protagonis.

Sesekali semesta memainkan perannya sebagai Ibu tiri tokoh jahat yang kerap menyiksa.

sedangkan kita sebagai upik abu,tokoh yang dijadikan bahan siksaan.

Semesta memaksa kita untuk hidup dalam belenggu nestapa. Hidup dalam ruang yang gelap dan pengap.

Memaksa kita untuk berlari di hamparan padang pasir nan gersang.

Diterpa badai dan awan panas.

Terus berlari hingga jiwa dan raga ini terbakar. Kemudian melepuh secara perlahan.

Namun kemudian ingatlah, bahwa semesta masih memiliki peran lain.

Peran Protagonis. Dimana semesta akan menjadi seorang Ibu peri yang akan melepaskan kita dari rantai hidup kegelapan.

Membiarkan kita untuk mengepakan sayap. Terbang bebas menghirup aroma pelipur lara.

Menebarkan tetes air kesejukan dalam hamparan padang savana.

Dan perlu kau ingat.

Seperti yang sering kau tonton pada layar televisimu.

Bahwa setiap drama ataupun sebuah pentas panggung sandiwara pasti memiliki seseorang yang mengatur alur cerita dalam pertunjukan tersebut.

Orang yang menentukan akhir dari cerita drama tersebut.

Sama ceritanya dengan panggung sandiwara dalam semesta ini.

Tak perlu ku sebut

Tak perlu ku bicara

Kau sudah tahu siapakah orang itu.

-Rionaldi (PBSI 2013)-

Pelantikan Ormawa FBS 2014

Acara pelantikan ORMAWA (3/03/014) dibuka oleh penampilan dari Kässe, grup musik dari Bund der Deutsch Studenten (BDS) dengan membawakan lagu Glaube an mich, You Belong with Me dan sebagainya. Setelah itu dilanjutkan oleh penampilan dari himpunan mahasiswa seni tari (HIMASETA) yang membawakan tarian Sekar Puji Astuti, yang dibawakan oleh dua orang penari dengan lemah gemulai dan memabelalakkan mata para aktivis yang siap dilantik malam itu.

Lalu, acara pelantikan ormawa dibuka secara resmi pada pukul 19.30 oleh MC Assa’adatul Kamilah (PBD 2013) dan Rionaldi Achri Prasetyo (PBSI 2013) yang disambut sorak sorai meriah oleh seisi gedung stage tari Tedjokusumo FBS. Sebelum masuk ke acara pertama para undangan dan aktivis diminta untuk berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara pertama adalah sambutan-sambutan, sambutan pertama dibacakan oleh ketua acara pelantikan ORMAWA Filla Lavenia Palupy (Sasing 2012). Dilanjutkan sambutan oleh bapak Dekan FBS Prof. Dr. Zamzani, M.Pd. lalu acara kedua adalah acara yang paling ditunggu-tunggu oleh semua aktivis FBS yaitu pelantikan sekaligus serah terima jabatan kepada ketua ORMAWA masing-masing.

Acara serah jabatan ini diawali oleh serah terima jabatan ketua BEM FBS 2013 Tommy Safarsyah kepada ketua BEM FBS 2014 Rony Kurniawan Pratama. Lalu, dilanjutkan serah terima jabatan oleh perwakilan DPM FBS 2013 Mela Melinda kepada ketua DPM FBS 2014 Septianto Hutama Putra. Selanjutnya dilanjutkan serah terima jabatan ketua setiap HIMA di FBS yang diawali oleh serah terima jabatan dari ketua HIMASETA 2013 Ika Kusumawardani kepada ketua HIMASETA 2014 Hafida Kholifatul Jannah. Lalu dilanjutkan oleh serah terima jabatan ketua Hima Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan 2013 yaitu Wardiawan Susanto kepada Abdul Muthalib selaku ketua Hima Pendidikan Seni Kerajinan 2014 dan Andi Setiya Putra selaku ketua Hima Pendidikan Seni Rupa 2014.

Dilanjutkan oleh serah terima jabatan ketua Hima Pendidikan Bahasa Daerah 2013 oleh Mohamad Wahyu Hidayat kepada Ketua Hima Pendidikan Bahasa Daerah 2014 Tejo Mukti Wibowo. Selanjutnya serah terima jabatan ketua HIMASIK 2013 Aldo Ahmad Vibra kepada ketua HIMASIK 2014 Emanuel Budiono. Lalu serah terima jabatan ketua KMSI 2013 oleh Heri Wahyu Hartanto kepada Haryo Pangestu selaku ketua KMSI 2014. Dilanjutkan serah terima jabatan ketua PBSI 2013 oleh Rony Kurniawan Pratama kepada ketua PBSI 2014 Roghib Mansyur Ridho. Selanjutnya serah terima jabatan ketua BDS 2013 Alek Kurniawan kepada ketua BDS 2014 Agus Setiawan. Lalu dilanjutkan oleh serah terima jabatan ketua EDSA 2013 oleh Fajar Subekti Zulkarnain kepada Almas Rifqi Darmawan selaku ketua EDSA 2014. Lalu serah terima jabatan ketua HIPER 2013 oleh Rully Pratama kepada Gani Naufal Sani selaku ketua HIPER 2014.

Selanjutnya serah terima jabatan ketua UKMF LIMLARTS 2013 Ayu Habibah kepada ketua UKMF LIMLARTS 2014 Siti Nasimah. Dilanjutkan serah terima ketua UKMF Al Huda 2013 Hasan Riyadi kepada ketua UKMF Al Huda 2014 Subkhan Abrori. Selanjutnya serah terima jabatan ketua UKMF Sangkala 2013 oleh Ali Hasan (Djimbe) kepada ketua UKMF Sangkala 2014 Adit Setyoko. Lalu acara serah terima jabatan ketua diakhiri dengan serah terima jabatan ketua UKMF Kreativa 2013 oleh Emy Lestari kepada Rio Anggoro Pangestu selaku ketua UKMF Kreativa 2014.

Dan selama serah terima jabatan ketua berlangsung, terjadi hal yang mengundang banyak tawa para aktivis lain yang melihat karena terjadi tukar menukar logo HIMA atau UKMF oleh para ketua baru. Segera setelah itu Bapak Dekan FBS memimpin prosesi pengucapan janji dan sumpah para aktivis yang lalu dilanjutkan dengan acara potong tumpeng yang diserahkan kepada para ketua yang baru saja dilantik. Lagi-lagi kejadian lucu terulang kembali saat para ketua mulai saling meyuapi diatas panggung sebagai simbol saling hormat, rukun, akur dan srawung satu sama lain.

Lalu acara kedua adalah hiburan yang diisi oleh band dari HIMASIK yang membawakan beberapa lagu. Lalu acara ketiga pun dimulai, yaitu Dialog Dekanat dengan tema 50 Tahun UNY, Mau Dibawa Kemana? sebagai acara terakhir dan ajang meluapkan segala rasa ingin tahu dan penasaran mahasiswa temtang apa yang terjadi di kampus FBS tercinta ini.

Setelah acara Dialog Dekanat ditutup, maka acara pelantikan ormawa pun ditutup malam itu dengan harapan setakun kepengurusan ke depan bisa membawa FBS menjadi lebih baik dan terdepan.

(Sasti Puspa Datu Senastri/Staff Infokomjar 2014)

PPG: Pemberontakan Para Calon Guru

Akhir-akhir ini program Pendidikan Profesi Guru atau yang kerap disebut dengan PPG, menjadi topik hangat bahkan mungkin “panas” untuk dibicarakan di kalangan mahasiswa, terlebih lagi oleh mahasiswa jurusan pendidikan. Secara umum, program Pendidikan Profesi Guru (PPG) merupakan program yang dirancang oleh pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pengajar atau guru di Republik Indonesia. Program ini diputuskan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2013. Berbagai respons (pro dan kontra) pun terjadi di kalangan mahasiwa pendidikan. Persoalan yang kemudian muncul adalah kenapa mahasiswa berbasis pendidikan tidak dapat mendapatkan sertifikat pendidik (akta mengajar) kembali? Dan, untuk mendapatkannya, mahasiswa calon guru haruslah menempuh PPG. Selanjutnya, apakah LPTK tidak lagi dipercaya sebagai lembaga calon pencetak pendidik (yang mendapatkan akta mengajar)?

 

Kawan-kawanku semua, para mahasiswa, para calon guru yang mulia hatinya Mari, kita kaji lebih dalam mengenai program Pendidikan Profesi Guru (PPG) ini. Dalam surat keputusan yang dikeluarkan kementrian pendidikan dan kebudayaan nomor 87 tahun 2013 disebutkan bahwa, (1) pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan khusus dengan persyaratan dan keahlian khusus. (2) Program Pendidikan Profesi Guru atau pra-jabatan atau yang selanjutnya disebut PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S-1 kependidikan S-1/D-IV non-kependidikan yang memiliki kompetensi bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan, sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik professional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

 

Dari poin pertama,di atas, kita dapat melihat bahwa program ini diadakan guna memberikan keahlian khusus bagi calon guru. Artinya, untuk menjadi guru dibutuhkan syarat dan keahlian khusus. Kemudian, pertanyaan yang muncul adalah bukankah para pahasiswa calon guru dari jurusan Kependidikan sudah dididik dan dilatih selama kurang lebih 4 tahun dengan program khusus pendidikan? Bagaimana bisa jurusan kependidikan disamaratakan dengan non-kependidikan dalam proses untuk menjadi guru, sedangkan dalam proses pembelajaran selama kuliah mereka mendapat ilmu yang jelas berbeda? Secara khusus, mahasiswa kependidikan sudah dilatih untuk bagaimana menjadi guru yang baik. Sementara itu, mahasiswa non-kependidikan tidak dilatih dengan tujuan menjadi guru. Oleh karena itu, secara sederhana dapat kita disimpulkan bahwa dalam hal ini tidak ada kehususan bagi mahasiswa kependidikan, dan pada akhirnya harus tetap bersaing dengan lulusan non-kependidikan yang juga ingin menjadi guru.

 

Selain itu, ada yang tak kalah menarik untuk didiskusikan yaitu tentang mata ajar yang ada dalam program PPG. Kembali dalam surat keputusan yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 87 tahun 2013 pasal 9 disbutkan bahwa; struktur kurikulum PPG berisis lokakarya pengembangan perangkat pembelajaran, latihan mengajar melalui pembelajaran mikro, pembelajaran pada teman sejawat, dan program pengalaman lapangan (PPL), dan program pengayaan bidang studi dan/atau pedagogi. Jika diperuntukan bagi lulusan jurusan non-Kependidikan yang ingin menjadi guru, maka struktur kurikulum di atas dirasa relevan, tapi tidak untuk lulusan jurusan kependidikan. Program seperti pembelajaran mikro dan PPL sudah ada dalam kurikulum pendidikan dan jika itu diulang lagi di PPG maka dalam bahasa jawa itu disebut mindon gaweni atau melakukan pengulangan yang tidak perlu. Maka pertanyaanya adalah masih relevan-kah PPG untuk alumni jurusan Kependidikan?

 

Dalam sebuah berita di okezone.com pada Rabu, 12 Februari 2014 10:32 WIB, terkait dengan calon guru wajib ikuti pendidikan profesi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh menyatakan bahwa S.Pd. adalah gelar akademik bukan gelar profesi sama halnya seperti (S.Ked) bagi alumni kedokteran. Tetapi, dilain sisi mari kita lihat lebih dalam, S.ked itu berbeda dengan S.Pd karena hanya alumni dari kedokteranlah yang boleh menjadi dokter, sekali pun ada pendidikan profesi. Semua warga negara kita berhak menjadi guru, tapi bukankah sudah sewajarnya yang berangkat dari bangku kependidikan mendapat perhatian khusus, dikhususkan dan tidak disamaratakan dengan yang memiliki latar belakang pendidikan non-kependidikan? Mari kita pahami bersama.

 

- Fajar Subekti Zulkarnain (Kadep PSDM BEM FBS 2014)

 

Dilema para mahasiswa Prodi Kependidikan atas dihapusnya sertifikat pendidik (akta 4) oleh Dikti memicu berbagai pertanyaan. Di sisi lain, melalui kebijakan tersebut, mahasiswa Prodi non-kependidikan pun dapat menjadi pendidik –dengan mengikuti Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Berangkat dari persoalan tersebut BEM FBS UNY 2014 kabinet #Serawung pun berinisiatif mengadakan audiensi dengan: (1) Ketua LPPMP (Penyelenggara PPG), (2) Dekan FBS, dan (3) Wakil Dekan I FBS (Bagian Akademik). Acara akan dilaksanakan di ruang seminar PLA Lantai III FBS UNY pada Jumat (21/03) Pukul 15.00 WIB. Terbuka untuk umum. Silakan bawa sahabat-sahabatmu yaaa!