Inilah Kabar Baru UKT UNY

Foto-0046

(14/6) Bapak Alip (WR II UNY) bersama Wahyudi Iman Satria (Ketua BEM KM UNY 2013

bem-fbs.student.uny.ac.id – UKT (Uang Kuliah Tunggal) memang banyak menimbulkan masalah. Kebijakan pendidikan oleh Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) ini memang dianggap tidak memperkecil masalah-masalah pendidikan yang ada. Dalih-dalih biaya pendidikan tinggi yang murah pada awal pendaftaran, ternyata berimbas negatif di benak para mahasiswa. Alokasi anggaran ala UKT yang masih simpang-siur. Dana kemahasiswaan di beberapa fakultas disunat akibat efek tidak langsung dari UKT.

Beberapa bulan yang lalu, ratusan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta telah mengadakan ‘pendadaran’ perihal UKT ini di Gedung Sigit Abdullah, FIP UNY. Hasilnya belum cukup signifikan. Alhasil untuk memperbarui informasi perihal UKT,  kemarin (14/6), BEM KM UNY mengadakan “Audiensi dan Mediasi UKT” di Ruang Ki Hajar Dewantara, FIS. Mahasiswa UNY hadir dalam audiensi tersebut.

Audiensi tersebut dibersamai oleh bapak Moch Alip selaku Wakil Rektor II (Bidang Keuangan) dan Wahyudi Iman Satria (Ketua BEM KM UNY 2013). Bapak Mochamad Alip menyatakan bahwa ada 5 golongan kemampuan pembayaran uang kuliah versi UKT:

  1.  0-1 juta asumsinya 5%,
  2. 1 juta-1,5 juta asumsinya 5%
  3.  1,5 juta-2,5 juta asumsinya 80%
  4. 2,5 juta-4 juta asumsinya 7,5 %
  5. < 4 juta asumsinya 2,5 %

Beliau menjelaskan juga bahwa ada tiga macam biaya pendidikan :

  1. Biaya investasi
  2. Biaya operasional
  3. Biaya personal

Menurutnya, UKT hanya digunakan untuk pembiayaan biaya investasi dan operasional. Untuk biaya personal misal wearpack, seragam laboratorium, dsb itu ditanggung pribadi. Dalam UKT ini juga tidak dipungut biaya yang lain karena UNY tidak memberlakukan PERMEN pasal 6 yang mengatakan penarikan 20% biaya tambahan dari mahasiswa. Berkaitan dengan mahasiswa baru, tahun ini UNY menerima 50% dari SNMPTN undangan, 30% SBMPTN dan 20% mandiri. Tidak ada uang pangkal di UKT dan tidak ada pungutan lain.

Dalam audiensi UKT beberapa mahasiswa menanyakan tentang pengaruh penghasilan orang tua dengan penerimaan mahasiswa jalur mandiri, jika penghasilannya di grade 3 misalnya. Pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh WR II.  “Hidup itu harus realistis dengan alasan bahwa jika orang memiliki biaya kecil dan ingin kuliah ya nabung..” tandas Bapak Moch. Alip, WR II. Beliau menambahkan bahwa Bidik Misi tidak masuk grade manapun karena itu golongan tersendiri dan dibayarkan oleh pemerintah.

Setelah itu, beberapa mahasiswa mengajukan pertanyaan kembali. Akibat pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi tersebut membuat WR II UNY naik pitam. Beliau menolak dikatakan tidak bersih dalam pekerjaannya selaku birokrasi. Para peserta audiensi mengaku kecewa karena pertanyaan-pertanyaannya belum terjawab dengan sempurna oleh WR II.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


1 × = three

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>